Hujan turun pelan sore itu. Tidak deras, tidak juga gerimis. Di sebuah bangku tua dekat jendela, Arka duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak lama.
Ia tidak sedang menunggu siapa-siapa. Setidaknya, begitulah yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.
Namun, setiap kali pintu kafe terbuka, matanya tetap terangkat. Ada harap kecil yang ia sembunyikan rapi, harap yang dulu pernah hidup, lalu mati tanpa pamit.
Namanya Lila.
“Aku gak butuh kamu jadi sempurna, Ka,” kata Lila suatu malam, saat mereka duduk di trotoar kota yang basah oleh hujan.
“Aku cuma butuh kamu jujur'
Arka mengangguk waktu itu. Tapi hidup, seperti biasa, tidak pernah sesederhana janji.
Kesibukan datang. Ego ikut bicara. Kata-kata yang seharusnya diucapkan justru ditahan, sementara yang tak perlu malah terlontar tanpa kendali. Mereka tidak serius bertengkar, hanya perlahan menjauh, seperti dua garis yang dulunya sejajar, lalu tanpa sadar memilih arah berbeda.
Sampai akhirnya, mereka berhenti.
Tanpa perpisahan yang jelas. Tanpa penutup yang rapi.
Hanya diam… yang terlalu panjang untuk disebut sementara.
—
Hari ini, bertahun-tahun kemudian, Arka masih duduk di tempat yang sama. Tempat di mana dulu Lila sering tertawa, memesan minuman yang sama, dan berbicara tentang hal-hal kecil yang kini terasa begitu besar.
Ia tersenyum tipis, mengingat satu hal yang dulu tak pernah ia pahami sepenuhnya.
Bahwa didengarkan adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Dan ia telah menyia-nyiakannya.
Pintu kafe kembali terbuka.
Arka mengangkat wajahnya kebiasaan lama yang belum hilang.
Seorang perempuan masuk. Bukan Lila.
Tentu saja bukan.
Namun entah kenapa, kali ini Arka tidak merasa kecewa. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Mungkin, beberapa kenangan memang tidak diciptakan untuk diulang.
Mereka hanya hadir untuk mengajarkan.
Tentang bagaimana mencintai dengan benar.
Tentang bagaimana mendengarkan dengan utuh.
Dan tentang bagaimana melepaskan… tanpa harus membenci.
Arka meraih cangkir kopinya, yang kini benar-benar dingin. Ia meneguknya tanpa ragu, merasakan pahit yang jujur, tanpa gula, tanpa pura-pura.
Di luar, hujan mulai reda.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka tidak lagi menunggu.
Ia bangkit. Melangkah keluar.
Meninggalkan kursi, kenangan, dan seseorang yang dulu pernah menjadi rumah
untuk akhirnya belajar… menjadi rumah bagi dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar