Senin, 20 April 2026

Yang Tertinggal di Antara Diam

Hujan turun pelan sore itu. Tidak deras, tidak juga gerimis. Di sebuah bangku tua dekat jendela, Arka duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak lama.

Ia tidak sedang menunggu siapa-siapa. Setidaknya, begitulah yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Namun, setiap kali pintu kafe terbuka, matanya tetap terangkat. Ada harap kecil yang ia sembunyikan rapi, harap yang dulu pernah hidup, lalu mati tanpa pamit.

Namanya Lila.

“Aku gak butuh kamu jadi sempurna, Ka,” kata Lila suatu malam, saat mereka duduk di trotoar kota yang basah oleh hujan.
“Aku cuma butuh kamu jujur'

Arka mengangguk waktu itu. Tapi hidup, seperti biasa, tidak pernah sesederhana janji.

Kesibukan datang. Ego ikut bicara. Kata-kata yang seharusnya diucapkan justru ditahan, sementara yang tak perlu malah terlontar tanpa kendali. Mereka tidak serius bertengkar, hanya perlahan menjauh, seperti dua garis yang dulunya sejajar, lalu tanpa sadar memilih arah berbeda.

Sampai akhirnya, mereka berhenti.

Tanpa perpisahan yang jelas. Tanpa penutup yang rapi.

Hanya diam… yang terlalu panjang untuk disebut sementara.

Hari ini, bertahun-tahun kemudian, Arka masih duduk di tempat yang sama. Tempat di mana dulu Lila sering tertawa, memesan minuman yang sama, dan berbicara tentang hal-hal kecil yang kini terasa begitu besar.

Ia tersenyum tipis, mengingat satu hal yang dulu tak pernah ia pahami sepenuhnya.

Bahwa didengarkan adalah bentuk cinta yang paling tulus.

Dan ia telah menyia-nyiakannya.

Pintu kafe kembali terbuka.

Arka mengangkat wajahnya kebiasaan lama yang belum hilang.

Seorang perempuan masuk. Bukan Lila.

Tentu saja bukan.

Namun entah kenapa, kali ini Arka tidak merasa kecewa. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Mungkin, beberapa kenangan memang tidak diciptakan untuk diulang.

Mereka hanya hadir untuk mengajarkan.

Tentang bagaimana mencintai dengan benar.
Tentang bagaimana mendengarkan dengan utuh.
Dan tentang bagaimana melepaskan… tanpa harus membenci.

Arka meraih cangkir kopinya, yang kini benar-benar dingin. Ia meneguknya tanpa ragu, merasakan pahit yang jujur, tanpa gula, tanpa pura-pura.

Di luar, hujan mulai reda.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka tidak lagi menunggu.

Ia bangkit. Melangkah keluar.

Meninggalkan kursi, kenangan, dan seseorang yang dulu pernah menjadi rumah
untuk akhirnya belajar… menjadi rumah bagi dirinya sendiri.

Kamis, 31 Januari 2019

Kader Umat


Kalau kau mengaku kader umat maka jadilah pembelajar dan pendidik, siapkan generasi hebat untuk membangun peradaban yg kuat.

Kalau kau mengaku kader umat maka kau harus siap berda'wah dimanapun. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Meskipun rintangan dan tantangan yg kau temui itu berat. Bersabarlah serta memohon pertolongan dan bimbingan hanya kepada Allah.

Kalau kau mengaku kader umat, kau tak boleh fanatis dgn golongan, ras, organisasi apapun dan dimanapun secara berlebihan.

Kalau kau mengaku kader umat maka katakanlah bahwa yg benar itu benar dan yg batil itu batil.
Kalau kau mengau kader umat jangan khawatir kehilangan teman, anggota, kader, sahabat dll. Karena Allah sebaik-baik tempat berlindung.

Kalau kau mengaku kader umat, berlomba-lomba serta tolong menolonglah dalam kebaikan dan kesabaran.

Kalau kau mengaku kader umat bermanfaatlah kapanpun dan dimanapun. Meskipun berbeda ras, golongan, agama dan bangsa. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yg bermanfaat.

Kalau kau mengaku kader umat jadilah pemersatu, pendamai, pengayom dan pejuang.

Jadilah mata rantai, jadilah penyejuk, merapatkan barisan, berjalan bersama-sama, beriiringan untuk kemaslahatan umat, agama, bangsa dan negara..

TIM Intermediate Training Pati Desember 2018


Pati, Desember 2018

Rabu, 22 Agustus 2018

Solidaritas Ala Masyarakat Masjid Darussalam Kademangaran

Realitas ibarat sebuah panggung pentas drama yang manyajikan lakon kebaikan dan keburukan, kepatuhan dan pengingkaran, kepedulian dan keangkuhan.

Realitas Berkurban mengajarkan tentang solidaritas sosial. Solidaritas sosial yang menjadi inti pesan kurban, seyogyanya mengarahkan pada peran-peran individu di masyarakat berbasis semangat komunitarian atau semangat ke-kita-an. betapa sempurnanya Islam tidak hanya mengatur tentang ke Aku-an (private) tapi juga ke-kita-an.

Perayaan hari raya Idhul adha menjadi momentum untuk meneladani kisah nabi Ibrahim dan ismail. Mengurbankan jiwa, harta dan segala sesuatu yg sejatinya hanyalah sebuah titipan. Itulah substansi qurban semua akan dikembalikan untuk keridhoan Allah (Tauhid) seperti yg tercantum dalam Qs. Ad dzariyat : 56 dan Al Ikhlas.

Kurban bukan hanya tentang ibadah, kurban juga bagian dari wujud aksi solidaritas sosial (keumaatan). Membrantas sekat status sosial masyarakat, Yg mampu membantu yg tidak mampu , yg tidak mampu sambung kekeluargaan dgn yg mampu. Maka mitos yg kaya makin kaya dan yg miskin makin miskin akan terbantahkan dengan konsep islam seperti qurban, zakat dll. Islam itu adil dan menjujung tinggi keadlian.

Masjid Darussalam Kademangaran sebuah masjid yg terletak di tengah sebuah kampung kecil bernama Kademangaran Kab. Tegal. Sebagai sebuah kampung yg mayoritas masyarakat bekerja di bidang buruh pertukangan (batu bata, meubel, sarung tentun) dll. namun ternyata masyarakatnya memiliki kemampuan solidaritas sosial yg tinggi.

Setelah kegiatan sunatan masal yg menggratiskan 40-an anak2 dhuafa (kurang mampu) beberapa bulan yg lalu Momentum kurban di masjid darussalam menjadi sebuah kegiatan rutin yg mungkin ditunggu-tunggu oleh masyarakat, bukan hanya tontonan pada saat penyembelihan tapi juga menghidupkan ekonomi micro di sekitar masjid (pedagang). jumlah hewan yg dikurban Alhamdulillah selalu cukup relatif banyak ditiap tahunya.

Tahun lalu total 50-an kambing yg dititipkan ke panitia masjid untuk dikurban dan tahun ini Alhamdulillah meningkat sampai tembus 73 ekor yg di sembelih, Rekor baru. walaupun sapi menurun dari yg tahun lalu 7 dan kini menjadi 5 ekor sapi.

Bagi saya ada hal nilai prinsip yg perlu dicontoh dari kejadian ini. Sebuah masjid yg terletak di sebuah kampung kecil dengan jumlah kurban sebanyak itu, ini termasuk jumlah yg cukup banyak. Ini baru satu masjid belum lagi di beberapa masjid yg belum terhitung. Mungkin jika dijumlah totalnya sampai ratusan.

Artinya nilai-nilai solidaritas sosial mayarakat kademangaran begitu tinggi.
Contoh konkret ialah tentang Guyub rukun solidaritas sosial masyarakat, dengan kultur masyarakat yg muktikultural dengan berbagai macam bakground. Semua Guyub rukun, tua-muda, anak-anak, bapak-bapak dan emak-emak menjadi satu, saling bahu dan saling membantu menghidupkan masjid untuk kesejahteraan sosial keumatan.

Semoga ini bisa menjadi contoh untuk yg lain, kultur positif masyarakat yg harus terus dijaga. Tentunya bersamaan solidaritas yg tinggi semoga ditunjang dengan kesejahteraan masyarakat yg tinggi pula dan yg paling penting masjid tetap manjdi Problem solve atau bagian dari pemecah solusi masalah keumatan bukan hanya tempat sakral untuk beribadah saja. Aamiin



Selamat idhul adha 1439 H.
Tegal, 22 Agustus 2018

Jumat, 05 Januari 2018

MEMILIKI



hidup adalah tentang menunggu. tentang menanti. tentang ruang dan waktu. Tentang perlawanan.

Bulan dan Matahari, keduanya ciptaanya.
Mereka seolah saling mencintai.
Membuktikan diri akan eksistensi masing-masing.
Tegar dalam Menjaga rindu.
Kuat dalam jarak dan rentang.
Punya spasi untuk di isi.
Mengisi kegelapan. Mengisi Sinar hidup.
Menghidupkan kehidupan. Meski mereka tidak bersama-sama.

langit dan bumi. Mereka ciptaanya.
Punya jarak untuk menatap.
Menjaga ruang.
Mengokohkan diri.
Tegar dalam penantian.
Saling mengisi untuk menghidupkan.
Tapi tak pernah bergandengan bersama.

Aku dan kamu adalah kita.  Adalah makhluk, makhluk dengan ketidaksempurnaan yg sempurna. Adalah ciptaanya.
Dikarunia titipan untuk merasakan.
dikaruniai titipan untuk mencintai.
Tapi, itu semuanya hanya titipan.
bukan hak kita untuk memiliki.

Mengapa harus kehilangan padahal kita tak pernah benar-benar memiliki (?)

Hingga mereka dan kita boleh jujur melihat dibalik jiwa,  ada luka disanah. Yg tak akan terobati selain dengan berjumpa bersama. Tapi....

cinta adalah perlawanan.
Melawan rasa.
Melawan rindu.
Melawan untuk sadar bahwa mencintai bukan berarti memiliki.
Mencintai bukan berarti membersamai.

Sekali lagi Mengapa harus kehilangan padahal kita tak pernah benar-benar memiliki (?)

Sabtu, 09 Desember 2017

CATATAN RENUNGAN ATAS PERISTIWA GENOSIDA ROHINGNYA, PEMBERSIHAN ETNIS MUSLIM DI MYANMAR!

Oleh : Azmi Al Amien


"Jika Islam menjadi Mayoritas maka aman serta telindungilah etnis dan agama lain yg bermukim disitu namun Jika Islam adalah minoritas maka tamatlah Islam untuk ditindas"

Jagat Media sosial sedang di viralkan dengan tersebarnya dokumentasi ataupun video kasus Genosida (pembantain, pembunuhan) terhadap warga etnis Muslim yg hidup di Rohingnya.

Warga etnis Rohingnya adalah penduduk yg hidup dari generasi ke generasi di salah satu wilayah RakhineState di myanmar dekat perbatasan bangladesh namun keberadaanya tidak diakui sebagai warga negara myanmar . Tidak hanya terkait akuisisi status warga negara bahkan mereka juga menjadi ancaman oleh pejabat dan warga budha yg menjadi Agama mayoritas di Myanmar.

Rezim pejabat yg memimpin di myanmar merasa khawatir Menengok sejarah masa silam penganut agama budha di Indonesia menjadi berkurang akibat tersebar luasnya islam di nusantara. Hal ini menjadi salah satu alasan rezim di myanmar untuk membersihkan etnis Muslim Rohingnya baik dengan cara mengusir, membantai maupun membunuh dengan sangat kejam karena keberadaanya sangat dikhawatirkan mengancam.

Setiap waktu muslim rohingnya merasa tertekan akibat penindasan yg dilakukan oleh militer myanmar untuk mengusir etnis Rohingnya dengan menghalalkan segala cara.

Sampai hari ini sudah puluh ribuan Muslim Rohingya terusir ke hutan, sungai dan lautan. Entah sudah berapa ratus manusia mati dibakar, disiksa ataupun mati menahan lapar dalam perjalananya menuju tempat yg aman.

Sebagian telah menemukan ajal karena dibantai atau karena sakit tak terobati, perburuan, kelaparan dan sakit terus mendera.

Genosida kepada Rohingya terlalu kasat mata, biadab dan tak bisa ditulis kata2. Dunia terdiam membisu, Mata dunia pun buta bahkan sampai pena-pena media mendadak kehabisan tinta untuk menuliskan kepedihan ROHingnya.

Apapun alasanya Orang tidak bisa diusir dan dibantai karena berbeda suku, agama dan warna kulit karena Kemanusiaan adalah jiwa universal yg setiap manusia punya hak untuk hidup dan merdeka.

aung San Su kyi pejabat tinggi myanmar yg katanya peraih nobel perdamain dunia dan penegak HAM yg dinobatkan oleh Norwegia sungguh berbanding terbalik dengan kenyataan yg ada,  dia hanya diam membisu bahkan membiarkan kejadian Genosida yg terjadi di myanmar.

Sudah sepatutnya gelar Nobel Perdamaian dunia harus dicabut dan aung San Su kyi beserta biksu biadab diadili seadil-adilnya.

mereka ROHINGYA dianggap sama dengan wabah yang harus musnah. Karena konflik RakhineState itu terkait warga yang tidak diakui keberadaannya.

Satu sisi bahwa ROHINGNYA sudah merasa  menjadi bagian dari warga negara Myanmar karena sudah lama dan dsri generasi ke generasi hidup disanah.

Di sisi lain, pihak militer myanmar memiliki doktrin bahwa ROHINGYA adalah orang keturunan dari bangladesh.

Sementara dsri Bangladesh merasa tidak bisa menerima mereka RORHINGNYA. Dan mereka pun terbengkalai.

orang ROHINGYA diburu oleh militer bak memburu hewan dan lari tanpa arah.  Ada yang ke hutan, laut dan sungai.

Sebagian ada yg tenggelam didalam penyeberangan ke negara tetangga, terbawa arus sungai dan sebagian dibantai secara kejam oleh tentara dan kaum teroris berwujud botak (biksu).

Kaum Muslim Dunia berduka, untuk membuka Hati Kita Terhadap Rohingnya "tak perlu kita menjadi Islam. cukuplah menjadi menusia" Begitu kata erdogen sang Presiden Turqi. mungkin satu-satunya presiden yg berani lantang dan tegas atas kasus rohingnya bahkan membuka pintu selebar-lebarnya untuk membantu pengungsi ROHINGNYA.

Bagaimana Presiden Kita?
Sampai saat ini saya belum melihat  pernyataan resmi dan progres gerak dari pak Jokowi sebagai presiden Indonesia atas kasus biadab yg menimpa ROHINGNYA. padahal kita Indonesia adalah negara mayoritas Muslim dan terbesar didunia bahkan di Pembukaan Undang2 Dasar 1945 sudah jelas disampaikan salah satu cita2 indonesia merdeka adalah  penjajahan diatas dunia agar harus dihapuskan.

Namun? Ahsudahlah..

Apa yg harus kita perbuat?
Ketika kita belum bisa membantu secara real tenaga maka bantulah dengan harta ataupun doa.  Kita selipkan disela-sela ibadah kita untuk mendoakan saudara seiman di dunia terkhusus untuk saudara kita di ROHINGNYA, PALESTINA maupun saudara muslim yg lain. Karena sungguh tidak kekuatan yg lebih kuat dari umat Muslim selain Kekuatan Doa.

"Ya Allah tolonglah seluruh saudara-saudara Muslim, Mujahidin dan orang-orang lemah di myanmar, Palestina, Syam dan dimanapun mereka umat muslim Berada.Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari kesulitan dan keadaan sempit yang mereka alami saat ini. Semoga Engkau menjaganya dalam keselamatan dan menjaga Indonesia agar tetap Aman dan damai". aamiin



Minggu, 12 November 2017

MEMOTRET KEHIDUPAN



Dibalik Lensa Kata terintip jutaan makna yg tersirat dalam hidup.
Dibalik Lensa Mata terlihat jutaan warna yg memperindah hidup.

Dulu, konon katanya dokumentasi kehidupan dilakukan dengan menulis dan Menggambar.

ilmuan-ilmuan, cendekia dan tokoh pemikir masa lampau mengisi kehidupanya dengan menulis.

Peninggalan-peninggalan pra sejarah juga dalam bentuk gambar dan tulisan.

Potret kehidupan manusia adalah lembar sejarah yg akan diisi selama manusia hidup dalam dunia. Yg akan menjadi sejarah yg  akan mereka tinggalkan.

Allah berfirman Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan" ( Al Qalam :1)

Manusia, terlahir suci seperti kertas putih. Lembar demi lembar kertas kosong mulai tergores. Goresan tinta hitam, merah, kuning, hijau, dan warna-warna lain mulai bermunculan.

tinta berwarna itu berasal dari diri manusia sendiri, dari kegiatan yang manusia jalani selama hidup didunia ini.

Cantik Indah nan enak dipandang adalah bumbu, jika goresan tinta itu berwarna.

goresan demi goresan yang terukir mempunyai banyak cerita dan akan menjadi pengalaman hidup.

dunia adalah potret dokumentasi kehidupan manusia, tentang apa yg sudah kita lakukan selama hidup dan tentang apa yg akan kita lakukan di sisa hidup ini?

Dibalik kehidupan ada Tuhan, Tuhan yg akan terus memotret kita disetiap waktu dimanapun kita berada.

Jadi, sadarkah bahwa manusia adalah objek potret kehidupan yg akan didokumentasikan selama di dunia untuk dikenang diakhir masa?

Alam akhirat yg kekal dan haqiqi akan menanti berpose lah dengan sebaik-baiknya dalam mengisi hidup ini..





Senin, 18 September 2017

KULIAH KERJA NYATA (KKN)


Berpetualang menggapai mimpi..

Bukankah sejarah dunia menunjukkan bahwa tidak ada romantika kehidupan jika tidak ada resiko? Begitu kata Gandi..

Kurang lebih 10 tahun yg lalu aku terjebak dalam titik terelemah dalam hidup. Aku menjadi manusia yg pesimis, seperti tak memiliki secercah cahaya masa depan yg baik.Mimpi yg menempel di dinding-dinding kamar hanya bisa kutatap, membisu, kotor dan berdebu dipenuhi jaring laba-laba yg kusam. Aku lesu seolah-olah ada dinding besar yg menghadang. Dinding kehidupan yg penuh rintangan.

10 tahun berlalu, perlahan aku mencoba bangkit. Aku sadar bahwa sebagai manusia aku tidak bisa menyalahi takdir hidup. Aku yakin Tuhan memberi takdir hidup kepada setiap manusia dengan sebaik-baiknya.

Pernah suatu ketika aku merenung dalam kesendirian,  "Mengapa hidup sedimikian rumit? Mengapa hidup penuh dengan tanya?"

Diusiaku yg masih belia aku mencoba terus bertanya dan mencaari jawaban, kehidupanku memang penuh dengan tanya dan tantangan.
tantangan hidup sudah seperti bumbu sedap yg yg sudah menjadi santapan setiap hari. Ialah fitrah ketika manusia akan fluktuatif dalam menikmatinya..

Namun,
Bukankah Hidup adalah perjuangan?

Kupikir Setiap langkah-langkah kaki menuju ladang kebaikan adalah titah perjuangan, setiap lisan yg mengeluarkan untaian kata2 baik adalah perjuangan. Setiap gerak tubuh yg ditujukan untuk kebaikan adalah perjuangan. Hidup adalah perjuangan!


Semua telah berlalu, aku berhasil melawati masa titik itu. Alhamdulillah.

Ku pikir benar bahwa Tuhan tidak akan membiarkan HambaNya untuk hidup dalam kesulitan.
Fainnamaal usri yusroo (dibalik kesulitan pasti ada kemudahan) dibalik keringnya gurun pasir tersimpan kekayaan minyak yg berlimpah.

Semua itu dualisme nilai hidup yg tak terpisahkan, berkontradiksi namun itulah nilai sempurnanya dari kehidupan.

Aku menyadari bahwa dibalik tantangan hidup menyimpan hikmah dan nilai-nilai suci kehidupan.


PERJUANGAN ADALAH NAFAS KEHIDUPAN, JANGAN BERHENTI BERJUANG !